Menggenggam mimpi pada illahi

Menggenggamkan Mimpi Pada Ilahi

“Apa yang kumau, belum tentu terlaksana olehku. Tapi apa yang Engkau mau, sudah pasti terlaksana oleh-Mu. Maka jadikanlah apa yang kumau ini menjadi mau-Mu, dan ridhoilah jalanku. Ya Rabb, aku mohon pada-Mu.”
Segalanya yang terasa tidak mungkin dalam logika dan perasaan manusia, sudah pasti mungkin dihadapan Allah. Dialah yang menggenggam segala sesuatu, Dia pulalah yang membuat segala sesuatu itu ada dan tiada.
”Dialah yang membuat yang tidak ada menjadi tampak nyata, dan meskipun nyata ada, Dia pulalah yang membuatnya menjadi tidak tampak.”

–Jalaludin Rumi-

Ketika seorang hamba berusaha, dalam upaya mewujudkan apa yang dia harapkan, semua usahanya adalah proses dalam kehidupannya, sedangkan segala sesuatu yang berhubungan dengan hasil akhir dan ketetapannya tetap berada dalam kehendak Allah. Tidak ada segala sesuatu yang ada di dunia ini yang dapat berpengaruh terhadap ketetapan Allah, melainkan kehendak-Nya sendiri. Untuk itu, kita sebagai hamba hanya wajib berusaha semampu kita (semampu kita berarti semaksimal mungkin dan sebaik mungkin yang dapat kita lakukan), kemudian berdo’a dan selanjutnya mengikhlaskan semua hasilnya pada Allah.

”Berdo’alah kepada Allah dan yakinlah do’a kalian dikabulkan.” –Muhammad SAW-

Kadangkala dalam berusaha dan berdo’a masih terbesit keraguan dalam hati, ’Akankah keinginan saya terkabul?’. Namun, di sisi lain kita juga menyadari bahwa tidak ada yang tidak mungkin untuk Allah. ’Apa sih, yang gak mungkin buat Allah?’
Semua yang ada di dunia berasal dari-Nya dan akan kembali pada-Nya. Hanya Allah yang berpengaruh terhadap semua kejadian di seluruh aspek kehidupan. Lantas apa yang membuat hati kita ragu?

Setelah ditelaah lebih jauh, ternyata keraguan itu datang dari dalam diri sendiri, semua penyebab berasal dari kita. Kita ragu karena kita masih mempertanyakan kemampuan diri sendiri, ’apakah saya mampu dalam urusan ini?’. Begitu pula dengan faktor penyakit hati, seperti halnya kemalasan. Karena malas, kita melakukan segala sesuatu tidak maksimal dan setengah-setengah, maka hasilnya pun kurang maksimal. Kemudian timbul penyesalan dalam hati, ’kenapa aku tidak melakukannya sebaik mungkin? Andai saja aku lebih sungguh-sungguh, pasti hasilnya akan lebih baik dari ini.’

Hanya ada satu hal ketika penyesalan itu telah terlanjur menyakiti hati kita. Kita hanya perlu berbesar hati, dan menyerahkan semua urusa kepada Allah. Ketika apa yang kita harapkan untuk menang, sukses, belum ada di tangan kita, berarti kita sedang belajar untuk berbesar hati bahwa kegagalan bukan berarti segalanya, dan kekalahan bukan akhir dari segalanya. Yang perlu diingat adalah, bahwa dalah hidup itu yang penting adalah proses, proses dimana kita bisa belajar untuk sabar dan meghargai diri sendiri, belajar untuk fokus, konsisten, dan melakukan segalanya tidak setengah-setengah. Tidak ada istilah gagal selama masih ada kesempatan, jika segalanya belum seperti apa yang diharapkan, maka hal itu tidak berarti gagal, melainkan belum berhasil.

”Lakukanlah saja yang terbaik yang bisa anda lakukan dan ikhlaskan hasilnya pada Allah. Biarkanlah sejarah yang mencatat hasil pekerjaan Anda. Sejarah selalu membantu, menyempurnakan, dan memaafkan orang-orang yang ikhlas dala bekerja. Syukuri dan nikmati sepenuhnya hidup Anda. Semua kejadian sudah sempurna seperti apa adanya,” -Quantum Ikhlas-

Ketika kita sudah berusaha sebaik mungkin dalam upaya meraih sesuatu, maka tak ada yang perlu dirisaukan lagi. Allah-lah yang menggenggam hasilnya, Dia Maha Tahu Segalanya; segala yang terbaik bagi hambanya. Satu hal yang pasti, tidak ada kejadian yang menimpa manusia melainkan dengan kehendak Allah.

Seperti firman-Nya dalam surat At Taubah 51:
”Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya, dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.”

Tak ada yang salah, begitu pula kita tidak perlu menyalahkan diri sendiri. Segala sesuatu pasti ada hikmahnya, dan barang siapa yang diberi hikmah, maka ia telah mendapat kebaikan yang amat banyak, sesuai dalam surat Al Baqarah ayat 269. Allah tahu yang terbaik bagi hamba-Nya. Dia-lah sutradara yang tak pernah keliru. Inilah hidup; tergantung dari perspektif mana kita menilainya.

Untuk itu, telah banyak tulisan dan ungkapa dari orang-orang, bahwa mencegah lebih baik daripada mengobati. Bagaimana mencegah datangnya penyesalan? Lakukan yang terbaik untuk hari ini, jangan menunda kebaikan, dan jangan kalah dengan kemalasan.

Lakukan apa yang bisa Anda lakukan hari ini. Hal termahal dalam hidup adalah kesempatan. Belum tentu besok kita punya kesempatan seperti hari ini dan detik ini, karena ada dua kemungkinan untuk kita esok hari, masih hidup atau sudah mati.

Mampukah kita berjanji pada diri sendiri, bahwa kita akan belajar dan berusaha untuk menjadi lebih baik, dan memberikan yang terbaik untuk hari ini? mampukah kita mengendalikan diri kita, me-manage hati kita, dan bersikap arif terhadap diri sendiri dan lingkungan?

Maafkanlah kesalahan diri sendiri, namun jangan biarkan kita kembali menyakiti diri sendiri dengan mengulang kesalahan yang sama. Rasul bersabda, ”Sungguh berbahagialah orang yang dapat menguasai dirinya, merasa cukup luas dengan rumahnya, dan menangis karena kesalahannya.” (Riwayat Ath Thabrani)

Cukupkanlah kesedihan tentang kegagalan masa lalu, dan jangan biarkan diri terlalu tenggelam dalam penyesalan yang berlarut-larut. Serahkan semua pada Allah, Dia-lah Sang Maha Cinta. ”Barang siapa menyerahkan seluruh dirinya kepada Allah, dan ia berbuat kebaikan, baginya pahala pada Tuhannya. Tiada yang perlu mereka khawatirkan, dan tiada pula mereka berduka cita.” (Al Baqarah:112)

”Taburlah pemikiran, maka Anda akan menuai tindakan,
Taburlah tindakan, dan Anda akan menuai kebiasaan,
Taburlah kebiasaan, dan Anda akan menuai karakter,
Taburlah karakter, dan Anda akan menuai masa depan.”

Iklan

Tentang anisakhumaira

Mungkin ini hanya sebuah kisah tentang hidupku yang keadaan dengan sederhana .Perjalanan hidupku hanya mampu ku tempuh dengan semua ini.Aku hanya wanita yang bisa mengejar impianku dengan usahaku,kerja kerasku,dan kemampuanku.Semua orang tidak pernah jauh dengan kata sukses bahkan itu adalah harapan bagi manusia ,begitu pun aku yang menjalankan segala hal dengan penuh kerja keras hanya untuk sepatah kata itu . Didalam hidupku aku mengejapkan hatiku untuk tidak hanya sekedar kata sukses yng mampu ku ungkpan tetapi dengan cara menjalani semua itu
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s